Gue kenal satu anak. Lulusan kampus negeri favorit.

IPK-nya? 3.92.

Cumlaude. Penuh warna emas di ijazah.


Orang tuanya bangga banget.

“Wah, anak gue akademis banget. Gak neko-neko.”

Soalnya selama kuliah, dia gak pernah aneh-aneh…

Gak pernah nongkrong, gak ikut organisasi.

Dia cuma: kuliah – pulang – kuliah – pulang.


Tapi waktu semester 8, mulai panik.

Teman-temannya udah banyak yang ngerjain proyek, magang, bahkan kerja freelance.

Dia baru mulai cek-cek loker.


Dan lo tau yang bikin dia syok?


Hampir semua lowongan yang dia lamar minta satu hal:

“Pengalaman organisasi, kerja tim, dan leadership.”


Masalahnya?


Dia gak punya itu semua.


Akhirnya dia cerita ke gue:

“Dulu gue pikir, kuliah itu ya fokus belajar aja.

Gak usah buang waktu di BEM, komunitas, apalagi lomba-lomba.”


“Tapi sekarang, gue ngerasa telat ngerti…

Ternyata yang dicari dunia kerja itu bukan cuma otak. Tapi juga otot sosial dan pengalaman.”


Yang lebih sedih lagi, anak-anak yang IPK-nya biasa-biasa aja,

tapi dulu aktif di organisasi dan komunitas,

mereka lebih dulu dipanggil interview.


Karena mereka punya cerita.

Mereka pernah kerja bareng tim. Pernah ribut, pernah gagal. Pernah pitching. Pernah presentasi.


Dan itu semua: gak diajarkan di kelas.


Gue ngerti banget rasanya.


Dulu juga pernah mikir: “Gue bakal aman asal nilai gue tinggi.”


Tapi ternyata, dunia kerja gak nanya IPK lo dulu.

Mereka nanya: “Lo bisa kerja bareng tim gak? Pernah handle konflik? Pernah belajar dari kesalahan?”


Dan itu semua…

gak bisa lo jawab pakai transkrip nilai.


Makanya sekarang gue bantu banyak orang upgrade skill walau mereka sibuk.

Bukan buat ngejar gelar baru,

tapi buat nyiapin diri biar punya nilai di dunia nyata.


Karena rasa aman itu bukan datang dari nilai A atau B.

Tapi dari diri lo yang bisa adaptif, kolaboratif, dan siap kerja.


Artikel dari Dreamtalent.id menyoroti bahwa kurangnya pengalaman non-akademik dapat memengaruhi produktivitas dan kebahagiaan kerja, yang menjadi perhatian perusahaan saat merekrut. 


Selain itu, JobStreet Indonesia menyarankan fresh graduate untuk menonjolkan aktivitas ekstrakurikuler atau proyek tim dalam CV mereka untuk menunjukkan kemampuan kerja sama dan kepemimpinan, yang sering kali lebih dihargai daripada prestasi akademik semata.


Lo gak harus daftar 10 organisasi sekaligus.

Lo juga gak harus ikut semua seminar yang ada.


Tapi lo bisa mulai dari satu hal kecil: Bangun skill komunikasi. Latih kerja tim. Belajar adaptasi.

Karena kalau nanti lo duduk di ruang interview, lo gak cuma bawa IPK tinggi…


Tapi juga bawa cerita yang bisa bikin lo layak dipilih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

List Nama Penyakit dalam Bahasa Inggris + Arti & Cara Bacanya